Wingers muda Persib Bandung Jejen Zaenal Abdini berharap bisa tampil lebih lama saat melawan Persisam Samarinda, Rabu (13/4/2011) nanti, setelah di laga kontra Bontang FC, Sabtu 9/4/2011) lalu, ia diberikan kesempatan bermain sekitar lima menit.
Ya, pada laga yang berujung kemenangan Maung Bandung 3-0 di Stadion si Jalak Harupat, Soreang Kabupaten Bandung tersebut, Jejen yang telah lepas dari cedera selama enam bulan, mensyukuri telah diberikan kesempatan tampil meski hanya lima menit.
"Saya sangat bersyukur bisa diturunkan dalam pertandingan. Walapun sebentar, tapi ini sangat berharga buat saya setelah enam bulan tidak main," kata Jejen
Pada laga pertamanya sepanjang putaran kedaua Liga Super Indonesia (LSI) 2010/2011 itu, Jejen mengaku grogi saat diturunkan Asisten Pelatih Persib Robby Darwis menit 88 menggantikan Matsunaga Shohei. Persoalan grogi itu, kata Jejen, akibat lama tidak mencicipi lagi atmosfer pertandingan dengan dukungan puluhan ribu bobotoh.
"Saya berharap di pertandingan ke depan, mudah-mudahan dikasih kesehatan dan cedera ini sembuh total, serta bisa main lebih lama lagi," kata pemain bernomor punggung 21 ini .
Minggu, 10 April 2011
Gonzales Diandalkan Cetak Gol Lawan Persisam

Manajer Persib Bandung Umuh Muchtar berharap pemain naturalisasi asal Uruguay Cristian Gonzales kembali bangkit mencetak gol bagi Maung Bandung pada laga sisa putaran kedua Liga Super Indonesi (LSI) 2010/2011.
Setelah didera cedera dan terlibat baku pukul dengan salah seorang ofisial Persib, pemain berjuluk El Loco tersebut memang mengalami krisis gol. Krisis gol mulai terpecahkan saat diturunkan melawan Bontang FC di Stadion si Jalak Harupat, Soreang Kabupaten Bandung, Sabtu (9/4/2011) dengan lesakan golnya pada menit 52.
Gonzales pun diharapkan menemukan kembali ketajamannya saat menjamu Persisam Samarinda, Rabu (13/4/2011) nanti. "Ya kita berharap Gonzales dapat eksis lagi dan mencetak gol untuk ke depannya," ujar Umuh .
Umuh mengaku cukup puas dengan gol yang dicetak Gonzales pada babak dua saat Persib menjamu Bontang FC tersebut. Pria yang juga Direktur Utama PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) itu pun tak segan-segan melontarkan pujian."Kemarin Gonzales bermain bagus, sebagai penyerang ia sudah kembali bangkit. Mudah-mudahan ke depannya ia bermain lagi seperti kemarin," kata Umuh.
Tidak hanya Gonzales, Umuh juga memuji seluruh pemain yang sudah memberikan rekor tak terkalahkan dari Bontang FC. "Kepada seluruh pemain juga saya acungkan jempol, semua bermain sangat bagus," pungkasnya.
Saat menjamu Bontang FC, Gonzales menyumbang satu dari tiga gol Maung Bandung ke gawang tim berjuluk Laskar Bukit Tursina tersebut. Dua gol lainnya dicetak Abanda Herman pada menit 27 dan Hilton Moreira menit 79.
Inilah Rahasia Kemenangan Persib atas Bontang FC
Manajer Persib Bandung Umuh Muchtar mengatakan, persoalan mental pemain memang menjadi masalah skuad Persib yang menyebabkan Maung Bandung terpuruk pada laga-laga sebelumnya.
Umuh pun mempunyai trik tersendiri untuk membangkitkan mental para pemainnya tersebut. Umuh hanya berusaha memberikan suasana yang nyaman sehingga Eka Ramdani cs bisa enjoy dalam menjalani setiap laga.
"Saya terapkan para pemain agar tidak tertekan dengan kekalahan kemarin. Kita anggap enjoy saja. Dengan itu, Alhamdulillah bisa membawa poin penuh saat Persib melawan Bontang FC," ujar Umuh .
Salah satu trik khusus untuk memperbaiki mental pemain tersebut, Umuh mengajak seluruh pemain makan siang sehingga tercipta suasana kekeluargaan. Sebelum pertandingan melawan Bontang FC di Stadion si Jalak Harupat, Soreang Kabupaten Bandung, Sabtu (9/4/2011) malam, Umuh mengajak para pemain makan bersama.
"Pada Jumat (8/4/2011) saya sengaja mengumpulkan para pemain untuk makan bersama. Sengaja saya kumpulkan karena sudah lama tidak makan bersama. Dari situ kebersamaan datang dan para pemain terlihat bangkit," kata Umuh.
Dalam kesempatan makan tersebut Umuh berpesan kepada para pemain untuk bermain lepas dan tanpa beban saat melawan Bontang FC. Pasalnya, kata Umuh, jika ada pemain yang bermental jelek maka akan mengganggu konsentrasi para pemain lain.
"Kita tidak membedakan mana pemain yang bermental 'borok' (jelek) atau yang mental bagus. Semua kita samakan. Jika dibedakan para pemain takutnya tersinggung malah mentalnya nanti malah lebih menurun," ucapnya.
Umuh pun mempunyai trik tersendiri untuk membangkitkan mental para pemainnya tersebut. Umuh hanya berusaha memberikan suasana yang nyaman sehingga Eka Ramdani cs bisa enjoy dalam menjalani setiap laga.
"Saya terapkan para pemain agar tidak tertekan dengan kekalahan kemarin. Kita anggap enjoy saja. Dengan itu, Alhamdulillah bisa membawa poin penuh saat Persib melawan Bontang FC," ujar Umuh .
Salah satu trik khusus untuk memperbaiki mental pemain tersebut, Umuh mengajak seluruh pemain makan siang sehingga tercipta suasana kekeluargaan. Sebelum pertandingan melawan Bontang FC di Stadion si Jalak Harupat, Soreang Kabupaten Bandung, Sabtu (9/4/2011) malam, Umuh mengajak para pemain makan bersama.
"Pada Jumat (8/4/2011) saya sengaja mengumpulkan para pemain untuk makan bersama. Sengaja saya kumpulkan karena sudah lama tidak makan bersama. Dari situ kebersamaan datang dan para pemain terlihat bangkit," kata Umuh.
Dalam kesempatan makan tersebut Umuh berpesan kepada para pemain untuk bermain lepas dan tanpa beban saat melawan Bontang FC. Pasalnya, kata Umuh, jika ada pemain yang bermental jelek maka akan mengganggu konsentrasi para pemain lain.
"Kita tidak membedakan mana pemain yang bermental 'borok' (jelek) atau yang mental bagus. Semua kita samakan. Jika dibedakan para pemain takutnya tersinggung malah mentalnya nanti malah lebih menurun," ucapnya.
Pertandingan Bersejarah Persib
PERSIB vs MALAYSIA
Turnamen Internasional
27 Juli 1986.
Setelah menjuarai Kompetisi Perserikatan 1986, Persib mewakili Indonesia pada Pesta Sukan II Piala Hassanal Bolkiah di Brunei Darussalam. Persib menjadi juara setelah di final menang 1-0 atas Malaysia melalui gol Yusuf Bachtiar menit 47, di Stadion Negara Sultan Hassanal Bolkiah Bandar Seri Begawan.
Saat itu, Persib meminjam Yusuf dari Perkesa '78 bersama Herry Kiswanto dari Kramayudha Tiga Berlian. Di semifinal Persib menang 4-2 atas Singapura. Keberhasilan Persib ini menuai pujian dari PSSI.
PERSIB vs AC MILAN
Persahabatan
PERSIB vs PSMS
Kompetisi 1984-1985
PERSIB vs PETROKIMIA
LI 1994-1995
PERSIB VS PERSEMAN
Kompetisi 1985-1986
PERSIB VS PSM
Final Kompetisi Perserikatan 1994
PERSIB vs PERSIRAJA
Play-off Degradasi 1978
PERSIB vs PSMS
Final Kompetisi Perserikatan 1983
PERSIB vs PERSEBAYA
Final Kompetisi Perserikatan 1990
PERSIB vs PERSIJA
Laga Penentuan Juara 1961
PERSIB vs ITALIA U-21
Persahabatan Internasional
BANGKOK BANK vs PERSIB
Leg 1 Grup Timur 2 PCA 1995
PERSIB vs JERMAN TIMUR
Persahabatan Internasional
PERSITA vs PERSIB
Liga Indonesia V/1998-1999
PERSIB vs PERSIKAB
Liga Indonesia VIII/2002
PERSIB vs PSIM
Play-off LI IX/2003
Turnamen Internasional
27 Juli 1986.
Setelah menjuarai Kompetisi Perserikatan 1986, Persib mewakili Indonesia pada Pesta Sukan II Piala Hassanal Bolkiah di Brunei Darussalam. Persib menjadi juara setelah di final menang 1-0 atas Malaysia melalui gol Yusuf Bachtiar menit 47, di Stadion Negara Sultan Hassanal Bolkiah Bandar Seri Begawan.
Saat itu, Persib meminjam Yusuf dari Perkesa '78 bersama Herry Kiswanto dari Kramayudha Tiga Berlian. Di semifinal Persib menang 4-2 atas Singapura. Keberhasilan Persib ini menuai pujian dari PSSI.
PERSIB vs AC MILAN
Persahabatan
4 Juni 1994.
Persib sebagai juara Kompetisi Perserikatan terakhir 1993-1994 berkesempatan menjajal AC Milan, di Stadion Senayan Jakarta. Ketika itu, AC Milan menjuarai Piala Champions 1994 melalukan tur Asia.
Persib diperkuat Robby Darwis, Yudi Guntara, Dede Iskandar dll., sedangkan Milan menurunkan Dejan Savicevic, Sebastiano Rossi, Marcel Desailly, Marco Simone, Gianlugi Lentini. Persib kalah telak 8-0, tetapi pelatih Milan Fabio Capello memberikan pujian kepada Yudi Guntara.*
Kompetisi 1984-1985
24 Februari 1985.
Laga final Kompetisi Perserikatan 1984-1985 antara Persib dan PSMS Medan menciptakan rekor jumlah penonton di Stadion Senayan Jakarta. Dari kapasitas 120.000 penonton yang tersedia, jumlah penonton yang hadir saat itu mencapai 140.000 yang mayoritas pendukung Persib.
Penonton meluber hingga pinggir lapangan, tetapi wasit Djafar Umar bisa menyelesaikan tugasnya dan tidak ada kericuhan. PSMS menang 4-3 melalui drama adu penalti setelah skor sama kuat 2-2.
LI 1994-1995
30 Juli 1995.
Persib menjadi juara Liga Indonesia I 1994-1995, setelah pada final mengalahkan Petrokimia Putra 1-0, di Stadion Senayan Jakarta. Gol tunggal dicetak striker Sutiono Lamso pada menit 75 setelah mengecoh kiper Derryl Sinere. "Maung Bandung" menyandang gelar juara sejati, karena Liga Indonesia I merupakan peleburan klub yang bermain di Kompetisi Galatama (profesional) dan Perserikatan (amatir). Persib berkekuatan pemain lokal dan diarsiteki Indra Thohir.*
PERSIB vs PSV
Persahabatan
11 Juni 1987.
Pemain top dunia Ruud Gullit bermain di Stadion Siliwangi Bandung. Bersama klubnya, PSV Eindhoven, mereka dijamu Persib yang diperkuat Adjat Sudrajat, Adeng Hudaya, Bambang Sukowiyono, Uut Kuswendi, Dede Iskandar, dll. PSV diperkuat Ronald Koeman, Wim Kieft, Eric Gerets. Persib kalah 6-0, tetapi pelatih PSV, Guus Hiddink memuji Persib. Gol PSV dicetak Evi Cool (3 gol), Rud Giip (2 gol), Jurie Koolkof. Pertandingan dipimpin wasit Djadja Mudjahidin.*
PERSIB vs PERSIJA
LI 2007-2008
24 April 2007.
Bobotoh berpesta setelah Persib mengalahkan Persija 3-0 pada Liga Indonesia XIII/2007, di Stadion Siliwangi Bandung. Dua gol diborong Christian Bekamenga, dan Eka Ramdani. Kemenangan begitu spesial karena Persib menunggu delapan tahun untuk mengatasi Persija. Sejak Liga Indonesia V/1999, Persib belum pernah menang atas tim "Macan Kemayoran", meskipun bermain di kandang sendiri. Persib ditangani pelatih Moldova, Arcan Iurie Anatolievici.*
Kompetisi 1985-1986
11 Maret 1986.
Setelah dua kali dikalahkan secara tragis melalui adu penalti dari PSMS Medan di grandfinal Kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1983 dan 1985, Persib akhirnya menjadi kampiun pada Kompetisi Perserikatan 1986. Gelar juara yang mengakhiri penantian selama 25 tahun tersebut diraih Persib setelah menjungkalkan Perseman Manokwari 1-0 (0-0) pada pertandingan grandfinal yang digelar di Stadion Utama Senayan Jakarta, 11 Maret 1986. Pemain yang baru kembali dari klub Mercu Buana (Galatama), Djadjang Nurdjaman menjadi pahlawan kemenangan Persib. Djadjang mencetak gol tunggal kemenangan Persib pada menit ke-77. Keberhasilan tersebut langsung disambut sukacita puluhan ribu bobotoh dan para sesepuh seperti Ateng Wahyudi, Solihin GP dan Ir. Soehoed. Pada pertandingan final, pelatih Nandar Iskandar menurunkan skuad Sobur (kiper), Suryamin, Ade Mulyono, Robby Darwis, Adeng Hudaya (belakang), Bambang Sukowiyono, Iwan Sunarya, Adjat Sudradjat (tengah), Djadjang Nurdjaman, Suhendar dan Dede Rosadi/Wawan Karnawan.***
Final Kompetisi Perserikatan 1994
17 April 1994.
Persib memastikan keabadian trofi juara Kompetisi Perserikatan setelah mengalahkan PSM 2-0 pada pertandingan final pamungkas kompetisi amatir di Stadion Utama Senayan Jakarta, 17 April 1994. Dua gol kemenangan Persib dicetak Yudi Guntara menit 26 dan Sutiono Lamso menit 71. Dalam pertandingan ini, Persib turun dengan komposisi tim Aris Rinaldi (kiper); Robby Darwis, Roy Darwis, Yadi Mulyadi; Dede Iskandar/Hendra Komara (76), Nandang Kurnaedi, Asep Kustiana/Mulyana (66), Yusuf Bachtiar, Yudi Guntara; Kekey Zakaria, Sutiono Lamso. Sementara PSM menurunkan Herman Kadiaman (kiper) Bahar Muharam, M. Ajis Muin, Ali Baba, Yosef Wijaya, Ajie Lestaluhu/Ayyub Khan (52), Anwar Liko, Yusrifar Djafar, Ansar Razak, Kaharuddin Djamal, Arief Kamaruddin. Selain gelar juara, pemain terbaik juga diraih pemain Persib, Sutiono Lamso. Striker asal Purwokerto inipun sebenarnya menjadi pencetak gol tersubur sepanjang musim. Namun, gelar itu diberikan kepada Agus Winarno (Persebaya) karena PSSI memutuskan bahwa gol dihitung pada putaran final saja.***
Play-off Degradasi 1978
27 Januari 1978.
Hari Jumat, tanggal 27 Januari 1978, boleh jadi menjadi hari paling menyesakkan dalam sejarah Persib Bandung. Pasalnya, Persib harus kehilangan tempatnya di jajaran elit sepakbola nasional karena kalah 1-2 dari Persiraja Banda Aceh pada pertandingan "play-off" degradasi Kompetisi Perserikatan 1975-1978. Pertandingan "play-off" perebutan peringkat 5 dan 6 ini dilakukan karena musim 1978-1979, PSSI memberlakukan sistem pembagian divisi untuk Kompetisi Perserikatan. Hanya lima tim terbaik Kejurnas PSSI 1975-1978 yang berhak tampil di Divisi Utama Kompetisi Perserikatan 1978-1979. Bermain di Stadion Utama Senayan Jakarta, Persib unggul melalui gol Max Timisela pada menit 10. Keunggulan tersebut tak bisa dipertahankan karena Persiraja berbalik unggul lewat dua gol yang dicetak Bustaman menit 15 dan Tarmizi menit 39. Dalam pertandingan ini, Persib turun dengan komposisi pemain: Syamsudin (kiper), Bambang, Kosasih, Encas Tonif, Giantoro/Herry Kiswanto, Zulham Effendi, Cecep, Nandar Iskandar, M. Atik/Djadjang Nurdjaman, Max Timisela, dan Teten.***
Final Kompetisi Perserikatan 1983
10 November 1983.
Persib yang baru promosi kembali ke Kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1983, setelah terlempar ke Divisi pada tahun 1978, langsung unjuk gigi. Giantoro dkk. lolos ke final untuk menantang PSMS Medan di Stadion Utama Senayan Jakarta. Dipimpin kapten tim Giantoro, Persib menahan imbang 0-0 dalam waktu normal dan perpanjangan waktu. Pertandingan harus diakhiri dengan adu penalti. Sayang, Persib gagal menjadi kampiun karena hanya dua eksekutornya yang mampu menjebol gawang PSMS yang dikawal Ponirin Meka yaitu Bambang Sukowiyono dan Wawan Karnawan. Tiga penendang yang gagal adalah Giantoro, Adjat Sudrajat, dan Wolter Sulu. Sementara, gawang Persib yang dijaga Sobur bobol tiga kali. Adjat tetap dinobatkan sebagai pemain terbaik dan pencetak gol tersubur dengan 8 gol. Komposisi pemain Persib saat itu adalah Sobur (kiper), Suryamin/Adjid Hermawan, Dede Iskandar, Robby Darwis, Giantoro (c), Encas Tonif/Kosasih A, Bambang Sukowiyono, Wolter Sulu, Adjat Sudrajat, Adeng Hudaya, dan Wawan Karnawan. ***
Final Kompetisi Perserikatan 1990
11 Maret 1990.
Sempat tertatih-tatih di awal musim, Persib akhirnya bisa tampil sebagai kampiun Kompetisi Perserikatan 1989-1990. Di partai puncak yang berlangsung di Stadion Utam Senayan Jakarta, 11 Maret 1990, Persib menumbangkan Persebaya Surabaya 2-0. Dua gol kemenangan Persib dicetak lewat gol bunuh diri Subangkit pada menit ketujuh dan Dede Rosadi menit ke-59. Dalam pertandingan final yang dipadati puluhan ribu bobotoh tersebut, pelatih Ade Dana memasang komposisi pemain Samai Setiadi (kiper), Dede Iskandar, Ade Mulyono, Robby Darwis, Adeng Hudaya (belakang), Asep Sumantri, Yusuf Bachtiar, Adjat Sudradjat (tengah), Nyangnyang/Dede Rosadi, Sutiono Lamso, Djadjang Nurdjaman. Sementara Persebaya yang ditangani pelatih Koesmanhadi memasang I Gusti Putu Yasa (kiper), Muharom Rosdiana, Usman Hadi, Maura Helly, Subangkit, Nuryono Haryadi, Ibnu Graham, Yusuf Ekodono, Syamsul Arifin, Putut Wijanarko, Budi Yohanis/Seger Sutrisno. Bagi Persib, ini adalah gelar juara keempat kalinya setelah tahun 1937, 1961 dan 1986.***
Laga Penentuan Juara 1961
30 Juni 1961.
Persib berhasil naik ke podium tertinggi dengan meraih trofi terbaik pada tahun 1961. Kepastian juara untuk kedua kalinya itu setelah Sunarto dkk. pada pertandingan terakhir putaran final (babak "7 Besar") yang berlangsung di Stadion Diponegoro Semarang, mengalahkan Persija 3-1. Tiga gol Persib oleh Wowo Sunaryo pada menit 12 dan 20 serta Hengki Timisela, sedangkan gol balasan Persija dicetak Sucipto. Pertemuan Persib dengan Persija ini sebagai laga puncak di putaran final yang menggunakan sistem setengah kompetisi ini. Sebelum laga penentuan digelar, Persib di peringkat kedua dengan nilai 9 di bawah PSM Makassar yang mengumpulkan nilai 10 setelah sehari sebelumnya mengalahkan PSMS Medan 3-2. Sementara Persija berada di posisi ketiga dengan nilai 8, dan bisa meraih juara jika menang atas Persaib. Skuad Persib adalah Hehanusa, Hermanus, Juju (kiper), Ishak Udin, Iljas Hadade, Rukma Sudjana, Fatah Hidayat, Sunarto, Thio Him Tjhiang, Ade Dana, Hengki Timisela, Wowo Sunaryo, Nazar, Omo Suratmo, Suhendar, Pietje Timisela.***
Persahabatan Internasional
27 Juni 1977.
Pada tahun 1994, Persib Bandung dibantai AC Milan 8-0 di Stadion Utama Senayan Jakarta. Bagi Persib, pertandingan melawan AC Milan ini bukanlah laga pertamanya melawan tim dari "Negeri Pizza" itu. Pada tanggal 27 Juni 1977, Persib sempat menjamu tim nasional Italia U-21 di Stadion Siliwangi. Selain menghadapi Persib, dalam lawatannya ke Indonesia timnas Italia U-21 menjajal beberapa tim, termasuk Persebaya. Berbeda dengan pertemuan dengan AC Milan, pada pertandingan melawan timnas Italia U-21 ini, Persib tampil perkasa. Meski sempat mendapatkan perlawanan, Persib akhirnya mencatat kemenangan dengan skor 3-1. Dalam pertandingan ini, Persib membuka keunggulan melalui gol yang dicetak Max Timisella saat pertandingan baru berjalan empat menit. Timnas Italia U-21 sempat menyamakan kedudukan pada menit 11 melalui gol yang dicetak Pasinato. Namun, Persib akhirnya bisa memastikan kemenangan melalui dua gol yang diciptakan Risnandar Soendoro pada menit 30 dan Nandar Iskandar, tujuh menit sebelum laga usai.***
Leg 1 Grup Timur 2 PCA 1995
16 September 1995.
Setelah menjuarai Liga Indonesia I 1994-1995, Persib tak punya waktu untuk beristirahat panjang. Sebab, Robby Darwis dan kawan-kawan harus langsung terjun di Piala Champion Asia (PCA). Tidak tanggung-tanggung, lawan pertama yang harus dihadapinya adalah mantan juara Piala Champions Asia asal Thailand, Bangkok Bank. Pada "leg" pertama babak pertama Grup Timur 2, Persib bertandang lebih dulu ke kandang Bangkok, Stadion Universitas Chulalangkorn, di pinggiran kota Bangkok. Berbekal kekalahan 1-4 dari tim PON DKI Jakarta pada laga pemanasan di Bandung, Persib datang ke Bangkok dengan kondisi tim yang kurang kondusif. Sejumlah pemain pilar terlibat perang dingin dengan pelatih Indra M. Thohir. Namun, dalam kondisi meragukan itu, Persib justru tampil trenginas di Stadion Universitas Chulalangkorn. Hasilnya, Maung Bandung mempermalukan tuan rumah dengan skor 2-0. Dua gol kemenangan Persib ke gawang Watcaharapong Somchit dilesakkan Kekey Zakaria pada menit 9 dan Yusuf Bachtiar menit 53.***
Persahabatan Internasional
29 Oktober 1964.
Pada tahun 1964, tim nasional Jerman Timur (Republik Demokrasi Jerman) tercatat dua kali berkunjung ke Indonesia, yaitu bulan Januari dan Oktober. Dalam dua kunjungannya itu, Jerman Timur selalu memilih Persib menjadi salah satu tim yang dihadapinya. Menurut catatan Novan Herfiyana, seorang kontributor data sepak bola Indonesia untuk situs rsssf.com, pada pertemuan pertama, Persib hanya kalah 0-2. Namun, pada pertemuan kedua di Stadion Siliwangi Bandung pada tanggal 29 Oktober 1964, Persib benar-benar menjadi bulan-bulanan salah satu kekuatan sepak bola di Eropa Timur dengan skor telak 1-7. Pada pertemuan kedua ini, formasi pemain Persib yang tampil adalah Jus Etek (kiper); Masri, Ishak Udin, Kaelani, Sunarto, Fattah/Ismail, Omo Suratmo, Wowo Sunaryo/Fattah, Djadjang Haris, Hendra, dan Andi Achmad/Otong. Sementara timnas Jerman Timur tampil dengan formasi Weigang (kiper) Geisler, Walter, Seehans, Rooke, Pankau, Litsewitz, Beckhaus, Stoker, Engelhardt, dan Bauchsdiess. ***
Liga Indonesia V/1998-1999
7 Februari 1999.
Sejak era Liga Indonesia (LI) diputar pada tahun 1994, pada musim kelima inilah Persib untuk pertama kalinya harus berurusan dengan ancaman degradasi. Karena buruknya persiapan dan konflik internal menjelang kompetisi, Persib mencatat hasil kurang mengesankan dalam 6 pertandingan pertama Grup B Wilayah Barat yang dihuni 5 tim. Dengan hanya mencatat 2 kali menang, sekali seri dan 3 kali kalah, tim asuhan Suryamin terperosok di papan bawah klasemen sementara. Ketika itu, bobotoh sudah pasrah menerima kenyataan pahit karena Persib tinggal menyisakan dua pertandingan lagi, bertandang ke Stadion Benteng Tangerang untuk menghadapi Persita dan menjamu Persija Jakarta di Stadion Siliwangi. Pertandingan "away" melawan Persita, 7 Februari 1999 menjadi partai krusial buat Persib. Sebab, hanya kemenanganlah yang bisa menyelamatkan tim kebanggaan bobotoh ini dari ancaman degradasi. Di luar dugaan, meski bertarung di kandang lawan, Persib tampil trenginas dan mencatat kemenangan 3-1. Imam Riyadi menjadi pahlawan Persib lewat dua gol yang dicetaknya pada menit 21 dan 65. Satu gol Persib lainnya disumbangkan Dadang Rusmana pada menit 72. Sementara gol balasan Persita diciptakan Giman Nurjaman pada menit 30.***
Liga Indonesia VIII/2002
5 Mei 2002.
Di bawah penanganan trio pelatih Deny Syamsudin, Dedi Sutendi, dan Lukas Tumbuan, Persib sebenarnya mencatat hasil mengesankan pada Liga Indonesia (LI) VIII/2002 dengan mencatat rekor tak terkalahkan di kandang sendiri. Namun, hasil buruk pada saat "away" membuat Ansyari Lubis dan kawan-kawan terjebak di papan bawah dan sempat dibayang-bayangi hantu degradasi. Persib baru terbebas dari ancaman degradasi pada tanggal 5 Mei 2002, setelah mencatat kemenangan atas Persikab Kab. Bandung dengan 5-0 pada pertandingan yang digelar di Stadion Siliwangi Bandung. Tudingan adanya "main mata" untuk menyelamatkan Persib dari degradasi ini muncul karena posisi Persikab saat itu memang sudah dipastikan degradasi ke Divisi I. Belakangan, tudingan tersebut dibenarkan oleh beberapa pemain Persikab yang tampil ketika itu. Meski sudah ada "kesepakatan" tertentu, tetap saja para pemain Persib sempat dibuat ketar-ketir. Pasalnya, setelah Ansyari Lubis mencetak gol cepat pada menit pertama, empat gol Persib lainnya ke gawang Jajang Sinar Surya baru terjadi di babak kedua, setelah "Dalem Bandung" bermain 10 orang sejak menit 42 karena Agus Muspar diganjar kartu merah. Empat gol Persib di babak kedua dicetak Sujana (menit 54, 66), Ruhiyat (85) dan Yaris Riyadi (88).***
Play-off LI IX/2003
16 Oktober 2003.
Jika tidak ada perubahan aturan promosi dan degradasi oleh PSSI, Persib sebenarnya sudah harus terlempar ke Divisi I pada Liga Indonesia (LI) IX/2003, bersama Barito Putra, PSDS Deli Serdang, Petrokimia Putra, Arema Malang, dan Perseden Denpasar. Aturan awal, enam tim terbawah terdegradasi ke Divisi I, Persib hanya menempati peringkat ke-16 dari 20 peserta LI musim itu. Namun, beberapa bulan sebelum laga usai, PSSI mengeluarkan keputusan kontroversial; tim yang otomatis terdegradasi hanya peringat 17-20, sedangkan peringkat 15 dan 16 diberi kesempatan memainkan pertandingan "play-off" melawan peringkat 3 dan 4 Divisi I. Maka, Persib main Solo untuk memanfaatkan "selembar nyawa" yang dihadiahkan PSSI. Pada pertandingan pembuka melawan Persela 1-0, Persib menang bertahan di Divisi Utama setelah mengalahkan PSIM Yogyakarta 1-0. Pertandingan berlangsung di Stadion Manahan Solo, 16 Oktober 2003 ini, gol tunggal Persib dicetak pemain asing asal Cile, Rodrigo Sanhueza pada menit 58. Pelatih Juan Antonio Paez menurunkan formasi Udin Rafiudin (kiper); Dadang Hidayat, Suwandi HS, Claudio Lizama; Yayan Sundana/Aji Nurpijal, Hendra Komara, Andrian Mardiansyah, Rodrigo Sanhueza, Alejandro Tobar; Suladi/Asep Dayat, Imral Usman.***
Sponsor Resmi Persib di ISL
PLATINUM SPONSOR
OFFICIAL SPONSOR
OFFICIAL SPONSOR
![]() |
PLATINUM SPONSOR
| | JOMA Joma Sport adalah perusahaan produk olahraga dari Spanyol, didirikan pada 1965 oleh Fructuoso Lopez. Joma memiliki jaringan distribusi lebih dari 28 negara, termasuk Indonesia yang lisensinya dipegang oleh PT Allsports'78. |
| | EVALUBE Dibuat dari bahan berkualitas tinggi serta komponen adiktif terbaik, di produksi menggunakan teknologi paling mutakhir dengan sistem komputerisasi. |
| | YOMART Perusahaan ritel modern yang berfokus di bidang minimarket yang telah melayani kebutuhan masyarakat akan barang kebutuhan sehari-hari. |
| | CORSA |
Legenda Persib Max Timisela
Max Timisela
Dilirik Werder Bremen Jerman
Mengenal sepak bola sejak berumur sepuluh tahun, Max Timisela dikenal memiliki kemampuan brilian mengolah si "kulit bundar”. Babeh Maksi, biasa dia disapa, piawai menjebol gawang lawan dengan aksi "Balik Bandung" atau kontra salto. Ia berkiprah di Persib mulai tahun 1962. Max Timisela adalah pemain keturunan Maluku, tetapi lahir di Cimahi Bandung pada 7 Mei 1944. Ketika bergabung dengan timnas PSSI, membawanya pergi keberbagai negara di belahan dunia. Ketika Tur Eropa melawan klub dari Jerman, Werder Bremen pada tahun 1965, timnas kalah 5-6. Max berhasil mencuri perhatian dengan mencetak dua gol. Saat itu juga, pelatih Werder Bremen, Heer Brocker sempat kepincut untuk merekrutnya.
"Saat itu, kita memang harus mengedepankan motivasi untuk membela Persib. Untuk bisa masuk Persib harus memiliki motivasi besar karena dulu sangat sulit bisa menjadi bagian skuad Persib. Setiap pemain harus berkompetisi. Seandainya tidak memiliki kemampuan bagus, tentunya kita tidak bisa masuk dalam daftar pemain," kata pemain era 60-an dengan nomber punggung 16 itu.
Pada tahun 60-an Persib sudah banyak dihuni pemain dari luar suku Sunda, salah satunya yaitu keluarga Timisela dari Maluku. Keluarga Timisela yang memperkuat Persib adalah Pietje Timisela, Hengki Timisela, dan Max Timisela. Pietje dan Hengki lebih awal bergabung dengan Persib, setelah itu barulah generasi berikutnya Max Timisela. Meskipun pada zaman itu pemain Persib berbeda suku, tetapi di dalam diri setiap pemain ditanamkan motivasi besar untuk membela tim "Pangeran Biru". Rekan bermain Max di antaranya, Samsudin (kiper), Risnandar, Giantoro, Encas Tonif, Kosasih B, Ganda, Wiwin, Nandar Iskandar, Atik, Teten, Cecep, Dedi Sutendi.
Dengan menanamkan motivasi besar itulah, Persib bisa melambung tinggi pada jajaran tim elit era itu. Babeh Maksi, dengan talenta dan bakat alam yang dimilikinya, gantung sepatu pada usia 35 tahun, tepatnya pada tahun 1979. Rasa bangga, cinta dan tentunya rasa memiliki terhadap Persib sangat melekat pada diri Max Timisela, terlontar kalimat darinya, "Saya cinta sepak bola dan saya tidak bisa lepas dari sepak bola."
Prestasi bersama Persib yang pernah diraihnya tidak main-main. Ia membawa Piala Jusuf di Makassar, Piala Tugu Muda di Semarang, dan Piala Surya di Surabaya. Setelah pensiun, Max Timisela pernah menjadi asisten pelatih, rentang waktu tahun 1985–1990. Prestasi yang dia dapat ketika menjadi asisten pelatih Kompetisi Perserikatan 1986. Saat itu, Persib meraih juara dengan mengalahkan Perseman Manokwari 1-0 PERSIB juara. Max tercatat menjadi asisten pelatih Nandar Iskandar, bersama Indra Thohir sebagai pelatih fisik.
Dilirik Werder Bremen Jerman
Mengenal sepak bola sejak berumur sepuluh tahun, Max Timisela dikenal memiliki kemampuan brilian mengolah si "kulit bundar”. Babeh Maksi, biasa dia disapa, piawai menjebol gawang lawan dengan aksi "Balik Bandung" atau kontra salto. Ia berkiprah di Persib mulai tahun 1962. Max Timisela adalah pemain keturunan Maluku, tetapi lahir di Cimahi Bandung pada 7 Mei 1944. Ketika bergabung dengan timnas PSSI, membawanya pergi keberbagai negara di belahan dunia. Ketika Tur Eropa melawan klub dari Jerman, Werder Bremen pada tahun 1965, timnas kalah 5-6. Max berhasil mencuri perhatian dengan mencetak dua gol. Saat itu juga, pelatih Werder Bremen, Heer Brocker sempat kepincut untuk merekrutnya.
"Saat itu, kita memang harus mengedepankan motivasi untuk membela Persib. Untuk bisa masuk Persib harus memiliki motivasi besar karena dulu sangat sulit bisa menjadi bagian skuad Persib. Setiap pemain harus berkompetisi. Seandainya tidak memiliki kemampuan bagus, tentunya kita tidak bisa masuk dalam daftar pemain," kata pemain era 60-an dengan nomber punggung 16 itu.
Pada tahun 60-an Persib sudah banyak dihuni pemain dari luar suku Sunda, salah satunya yaitu keluarga Timisela dari Maluku. Keluarga Timisela yang memperkuat Persib adalah Pietje Timisela, Hengki Timisela, dan Max Timisela. Pietje dan Hengki lebih awal bergabung dengan Persib, setelah itu barulah generasi berikutnya Max Timisela. Meskipun pada zaman itu pemain Persib berbeda suku, tetapi di dalam diri setiap pemain ditanamkan motivasi besar untuk membela tim "Pangeran Biru". Rekan bermain Max di antaranya, Samsudin (kiper), Risnandar, Giantoro, Encas Tonif, Kosasih B, Ganda, Wiwin, Nandar Iskandar, Atik, Teten, Cecep, Dedi Sutendi.
Dengan menanamkan motivasi besar itulah, Persib bisa melambung tinggi pada jajaran tim elit era itu. Babeh Maksi, dengan talenta dan bakat alam yang dimilikinya, gantung sepatu pada usia 35 tahun, tepatnya pada tahun 1979. Rasa bangga, cinta dan tentunya rasa memiliki terhadap Persib sangat melekat pada diri Max Timisela, terlontar kalimat darinya, "Saya cinta sepak bola dan saya tidak bisa lepas dari sepak bola."
Prestasi bersama Persib yang pernah diraihnya tidak main-main. Ia membawa Piala Jusuf di Makassar, Piala Tugu Muda di Semarang, dan Piala Surya di Surabaya. Setelah pensiun, Max Timisela pernah menjadi asisten pelatih, rentang waktu tahun 1985–1990. Prestasi yang dia dapat ketika menjadi asisten pelatih Kompetisi Perserikatan 1986. Saat itu, Persib meraih juara dengan mengalahkan Perseman Manokwari 1-0 PERSIB juara. Max tercatat menjadi asisten pelatih Nandar Iskandar, bersama Indra Thohir sebagai pelatih fisik.
Langganan:
Postingan (Atom)














